Monday, February 3, 2014

A. Batasan Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa, sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat yang baru di samping pola yang sudah ada.
Contoh:
- Anak itu menendang bola.
- Anak yang kau sebut kemarin itu, menendang bola.

Kalimat majemuk adalah penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih sehingga kalimat yang baru ini mengandung dua pola kalimat atau lebih.
Contoh:
- Ayah menulis surat
- Ibu duduk di sampingnya
- Ayah menulis surat sambil ibu duduk di sampingnya

B. Macam-macam Kalimat Majemuk

1. Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara yaitu hubungan antara kedua buah kalimat sederajat atau setara. Hubungan setara dapat diperinci sebagai berikut:

a). Setara menggabungkan.
Penggabungan terjadi dengan merangkaikan dua kalimat tunggal dengan diantarai kesenyapan, dengan kata-kata tugas seperti: dan, lagi, sesudah itu, karena itu.
Contoh: Saya menangkap ayam, dan ibu memotongnya.
b). Setara memilih
Kata-kata tugas yang dipakai adalah atau.
Contoh: Kamu mau ikut ke rumah nenek atau kamu tinggal di rumah sendirian?
c). Setara mempertentangkan
Kata-kata tugas yang dipakai antara lain: tetapi, melainkan, hanya.
Contoh: Adiknya naik kelas, tetapi ia sendiri tinggal kelas

2. Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat yang hubungan pola-polanya tidak sederajat. Bagian yang lebih tinggi kedudukannya disebut induk kalimat sedangkan yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat.
Sesuai dengan fungsinya, anak kalimat dapat dibagi sebagai berikut:

a). Anak kalimat yang menduduki fungsi gatra-gatra inti.
Contoh:
- Yang harus menyelesaikan pekerjaan itu, telah pergi meninggalkan kami tanpa pamit

b). Anak kalimat yang menduduki salah satu bahan tambahan
1. Yang rapat
Contoh: Ia tidak mengetahui bahwa kami telah pergi meninggalkan tempat itu.
2. Yang renggang
Contoh: Ia telah memukul anak, yang mencuri buah-buahan di halaman belakang rumahnya.

3. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran yaitu kalimat yang terdiri dari sebuah pola atasan sekurang-kurangnya dua pola bawahan atau sekurang-kurangnya dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan.
a. Satu pola atasan dan dua pola bawahan
Contoh:
Kami telah menyelenggarakan sebuah malam kesenian yang dimeriahkan oleh para artis ibu kota, serta dihadiri pula oleh para pembesar kota itu
b. Dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan
Contoh:
Bapak menyesalkan perbuatan itu, dan meminta agar kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, yang dapat merugikan nama baik keluarga dan kedudukannya.

C. Hubungan antara Induk Kalimat dan Anak Kalimat

Hubungan induk kalimat dan anak kalimat adalah bagaimana kedudukan anak kalimat itu terhadap gatra-gatra dalam induk kalimat.
Anak kalimat dapat dibedakan berdasarkan kedudukanya atau hubungannya dengan induk kalimat.

1. Anak kalimat gatra pangkal
Seluruh anak kalimat yang menduduk fungsi gatra pangkal.
Contoh: Yang menyampaikan berita itu, telah pergi sejam yang lalu.

2. Anak kalimat keterangan gatra pangkal
Contoh:
Kemarin pelajar-pelajar yang telah menempuh ujian akhirnya, berkumpul di sekolah untuk mendengarkan hasi ujiannya.

3. Anak kalimat gatra pelengkap penderita
Contoh: Sering sudah kukatakan, bahwa revousi jangan diukur dengan hari dan dengan tahun.

4. Anak kalimat keterangan waktu: menduduki jabatan atau fungsi keterangan sebab dari induk kalimat. 
Contoh: Ketika mereka tiba disini, kami tidak ada.

5. Anak kalimat keterangan gatra pelengkap
Contoh: Saya membawa buku, yang kujanjikan kemarin.

6. Anak kalimat keterangan sebab: menduduki fungsi keterangan sebab dari induk kalimat
Contoh:
Pekerja-pekerja itu enggan mengerjakan pekerjaan itu, karena upah untuk itu terlalu rendah.

7. Anak kalimat keterangan perlawanan: menduduki jabatan keterangan perlawanan dari induk kalimat.
Contoh:
Meskipun kami telah mencoba mensintesakan, kedua dokumen yang penting itu, kami tidak dipimpin oleh keduanya itu saja.

D. Kalimat Transitif dan Kalimat Intransitif

Suatu kalimat aktif termasuk transitif atau intransitif dilihat dari kata kerja yang menjadi predikat kalimat aktif itu. Kalimat aktif dikatakan transitif jika predikatnya berupa kata kerja dapat berupa kata kerja aus (seperti makan, minum), kata kerja berawalan me-, me-kan, me-i (memerlukan objek langsung atau dibubuhi objek langsung sesudahnya)
Kalimat aktif intransitif yaitu kalimat aktif yang predikatnya berupa kata kerja intransitif, umumnya berupa kata kerja berawalan ber- beberapa berawalan me-.

Kata kerja intransitif tidak memerlukan objek (pelengkap) atau tidak dapat diberi subjek sesudahya.

Perhatikan:
Transitif
Intransitif
Adik sedang menangis
Adik sedang menangisi bonekanya
Adik sedang tidur di kamar
Ibu sedang menidurkan adik di kamar
Orang itu tertawa
Orang itu menertawai/menertawakan hal itu
Mari kita mendoa
Mari kita mendoakan almarhum

E. Kalimat Langsung dan Kalimat Tidak Langsung

1. Kalimat Langsung
Kalimat langsung dukutip dari pembicaraan seseorang, atau kalimat itu merupakan langsung ucapan seseorang.
Dalam bahasa tertulis, kalimat dituliskan diantara tanda petik.
Contoh:
a. "Hai anak-anak, akan pergi ke manakan kalian ini?" tegur orang itu.
b. Kedua anak itu menjawab, "Kami akan memasuki desa ini untuk mencari makan."

2. Kalimat Tak Langsung
Kalimat tidak langsung merupakan ucapan seseorang yang diucapkan lagi orang lain, atau prang lain menceritakan yang diucapkan orang lain. Sungguhpun susunannya berubah, namun maksudnya tetap.
Kata ganti orang kesatu dan kedua dalam kalimat langsung berubah menjadi kata ganti orang ketiga dalam kalimat tidak langsung.
Contoh:
a. Ayah mengatakan bahwa besok mereka akan berangkat ke Jakarta.
b. Adi mengatakan bahwa Siti belum pulang.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 10:05 PM

Sunday, February 2, 2014

A. Pengertian Sastra
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) arti kata sastra adalah “karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”. Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.

Menurut Wellek dan Warren (1989) sastra adalah sebuah karya seni yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. sebuah ciptaan, kreasi, bukan imitasi
2. luapan emosi yang spontan
3. bersifat otonom
4. otonomi sastra bersifat koheren(ada keselarasan bentuk dan isi)
5. menghadirkan sintesis terhadap hal-hal yang bertentangan
6. mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan bahasa sehari-hari.

Sastra bukanlah seni bahasa belaka, melainkan suatu kecakapan dalam menggunakan bahasa yang berbentuk dan bernilai sastra. Jelasnya faktor yang menentukan adalah kenyataan bahwa sastra menggunakan bahasa sebagai medianya. Berkaitan dengan maksud tersebut, sastra selalu bersinggungan dengan pengalaman manusia yang lebih luas daripada yang bersifat estetik saja. Sastra selalu melibatkan pikiran pada kehidupan sosial, moral, psikologi, dan agama. Berbagai segi kehidupan dapat diungkapkan dalam karya sastra.

Sastra dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan kepada pembacanya. Seringkali dengan membaca sastra muncul ketegangan-ketegangan (suspense). Dalam ketegangan itulah diperoleh kenikmatan estetis yang aktif. Adakalanya dengan membaca sastra kita terlibat secara total dengan apa yang dikisahkan. Dalam keterlibatan itulah kemungkinan besar muncul kenikmatan estetis. Menurut Luxemburg dkk (1989) sastra juga bermanfaat secara rohaniah. Dengan membaca sastra, kita memperoleh wawasan yang dalam tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual dengan cara yang khusus.

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sastra adalah hasil cipta manusia dengan menggunakan media bahasa tertulis maupun lisan, bersifat imajinatif, disampaikan secara khas, dan mengandung pesan yang bersifat relatif.

B. Fungsi Sastra
Dalam kehidupan masyarakat, sastra memiliki beberapa fungsi sebagai berikut
  1. Fungsi rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmat atau pembacanya
  2. Fungsi didaktif yaitu sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.
  3. Fungsi estetis, yatiu sastra mampu memberikan keindahan penikmat/pembacanya karena sifat keindahannya.
  4. Fungsi moralitas, yaitu sastra mampu memberikan engetahuan kepada pembaca/peminatnya sehingga tahu moral yang baik dan buruk, karena sastra yang baik selalu mengandung moral yang tinggi.
  5. Fungsi religius, yaitu sastra pun menghadirkan karya-karya yang mengandung ajaran agama yang dapat diteladani para penikmat/pembaca sastra.
C. Ragam Sastra
Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri dari 4 (empat) betuk berikut
  1. Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi.
  2. Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan bahasa yang singkat dan adat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah-kaidah atau aturan tertentu, yaitu: 1). Jumlah baris tiap-tiap baitnya; 2) Jumlah suku kata atau kata dalam tiap-tiap kalimat atau barisnya; 3) Irama, dan 4). Persamaan bunyi kata. 
  3. Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi, namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa.
  4. Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog. Drama ada dua pengertian, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan
Dilihat dari isinya, sastra terdiri atas 4 macam, yaitu:
  1. Epik, karangan yang melukiskan sesuatu secara objektif tanpa mengikutkan pikiran dan perasaan pribadi pengarang.
  2. Lirik, karangan yang berisi curahan perasaan secara subjektif.
  3. Didaktik, karya sastra yang isinya mendidik penikmat/pembaca tentang masalah moral, tata krama, masalah agama, dan lain-lain.
  4. Dramatik, karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian (baik atau buruk) dengan pelukisan yang berlebih-lebihan.
Dilihat dari sejarahnya, sastra terdiri dari 3 (tiga) bagian berikut:
  1. Kesusastraan lama, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama dalam sejarah bangsa Indonesia
  2. Kesusastraan Peralihan, kesusastraan yang hidup pada zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi.
  3. Kesusastraan Baru, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat baru Indonesia. 
D. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam  yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti: tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latar dan pelataran, dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstrisik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari luarnya, menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain.

1. Unsur Intrinsik

a. Tema dan Amanat
Tema adalah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah teman yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.
Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan. Makna niatan adalah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.

b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).
Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat ialah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan  yang terjadi pada tokoh ini. dari segi kejiwaan dikenal tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula dengan tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis adalah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. 
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-caranya menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh, yaitu 1). Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi, pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. 2). Cara dramatik ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh lain dalam suatu cerita.
Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.
Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.
Monolog ialah bentuk cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.
Solilokui, ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

c. Alur dan Pengaluran
Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu, bulat, dan utuh. Alur terdiri atas beberapa bagian berikut:
  1. Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
  2. Tikaian, yaitu terjadinya konflik diantara tokoh-tokoh pelaku.
  3. Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokohnya semakin seru.
  4. Puncak, yaitu saat puncak konflik diantara tokoh-tokohnya.
  5. Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
  6. Akhir, yaitu saat seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.
Pengaluran yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibeakan menjadi alur erat dan alur longgar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kuantitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu  dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. 
Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan menjadi alur lurus dan alur tak lurus. Alur lurus adalah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan  dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campuran keduanya. 

d. Latar dan Pelataran
Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting ini dibedakan menjadi latar material dan sosial. Latar material ialah lukisan latar belakang alam atau lingkungan dimana tokoh tersebut berada. Latar sosial ialah lukisan tata krama tingkah laku, adat dan pandangan hidup. Sedangkan perlataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar. 
e. Pusat Pengisahan
Ialah sudut pandang suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita disini adalah pribadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama pencerita duduk dan terlihat dalam  cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlihat dalam cerita tersebut, ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.
2. Unsur Ekstrinsik
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom. Karya sastra ini selalu berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra. Dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan-bantuan ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, dan lain-lain.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 10:25 PM
Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa atau kalimat dengan kalimat. Umpamanya kata dan, karena, dan ketika. Dilihat dari fungsinya, berikut ini dua macam kata penghubung:

1. Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara terdiri dari beberapa hal berikut:
  • Menggabungkan biasa; dan, dengan, serta.
  • Menggabungkan memilih: atau
  • Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya
  • Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya
  • Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah (malahan), lagipula, apalagi, jangankan
  • Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya
  • Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya
  • Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah
  • Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena, itu, oleh sebab itu
2. Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat dibedakan sebagai berikut:
  • Menyatakan sebab: sebab dan karena
  • Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, dan asal
  • Menyatakan tujuan: agar dan supaya
  • Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
  • Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga
  • Menyatakan sasaran: untuk dan guna
  • Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana
  • Menyatakan tempat: tempat
1. Kata Penghubung dan
Kata penghubung ini untuk menyatakan "gabungan biasa" digunakan pada bagian berikut:
a. Diantara dua buah kata benda
Contoh:
Ibu dan ayah pergi ke Bogor
Ayah membeli rokok dan korek api

b. Di antara dua buah kata kerja
Contoh:
Mereka makan dan minum di kelas
Ibu mencuci dan menyetrika pakaian kami

c. Diantara dua buah kata sifat yang tidak bertentangan.
Contoh;
Anak itu rajin dan pandai
Pohon durian itu besar dan tinggi

Catatan:
1). Kalau keduanya kata sifat yang digabungkan dengan kata penghubung dan  itu sifatnya bertentangan, maka tidak mungkin menduduki fungsi predikat.
Jadi mungkin terdapat kalimat sebagai berikut;
- Anak itu rajin dan malas
- Pohon durian itu besar dan kecil
Tetapi kedua kata sifat ini banyak menduduki fungsi subjek. Umpamanya sebagai berikut:
- Kaya dan miskin di hadapan Tuhan sama saja
- Buruk dan baik perlu dipertimbangkan masak-masak

2) Jika yang dihubungkan lebih dari dua buah kata, maka  kata penghubung dan hanya digunakan diantara dua buah kata yang terakhir.
- Kami memerlukan kertas, lem, gunting, dan benang
- Dia dipukul, dibanting, dan ditendang oleh musuhnya
- Anaknya pandai, ramah, dan rajin 

d. Di antara dua buah klausa (bagian kalimat) dalam sebuah kalimat majemuk/luas
Contoh;
Saya mau piano dan adik menggesek biola
Ali belajar bahasa Inggris dan kakaknya belajar bahasa Arab

Jikalau klausa-klausa yang digabungkan itu lebih tinggi dari 2 buah, maka kata penghubung dan hanya digunakn di antara dua buah klausa yang terakhir.
Contoh:
Gubernur menyumbang sepuluh juta rupiah, bupati menyumbang lima juta rupiah, dan para pengusaha menyumbang enam juta rupiah.

2. Kata Penghubung dengan
Kata penghubung ini fungsinya untuk menyatakan "gabungan biasa", dapat pula digunakan diantara dua buah kata benda.
Contoh:
- Ibu dengan ayah pergi ke Bogor
- Dia dengan anaknya sudah datang

3. Kata Penghubung serta
Kata enghubung serta dengan fungsinya untuk menyatakan "gabungan biasa" digunakan di antara dua buah kata benda.
Contoh:
- Kakak serta nenek akan datang minggu depan
- Uangmu serta uangku sebaiknya kita satukan saja untuk modal usaha.

Catatan:
Kata penghubung dengan, serta, sebaiknya diganti/digunakan kata penghubung dan.
4. Kata Penghubung atau
Kata penghubung atau  dengan fungsi untuk menyatakan "memilih" dapat digunakan di antara bagian berikut.
a. Dua buah kata benda atau frase benda
Contoh:
- Nama orang itu Adi atau Andi?
- Sarjana teknik atau sarjana sastra sama pentingnya dalam pembangunan.

b. Dua buah kata kerja
Contoh:
- Jangan menegur atau mengajak bicara anak-anak nakal itu.
- Dalam peperangan seperti itu tidak ada pikiran lain, membunuh atau dibunuh.

c. Dua buah kata sifat yang berlawanan maknanya.
Contoh:
- Kaya atau miskin dihadapan tuhan tidak ada bedanya
- Mahal atau murah akan kubeli rumah itu

d. Kata kerja atau kata sifat dengan ingkarannya
Contoh:
- Kamu mau datang atau tidak, itu adalah urusanmu
- Jujur atau tidak jujur orang-orang itu saja tidak tahu.

e. Dua buah klausa dalam sebuah kalimat majemuk setara
Contoh:
- Saya yang datang kerumahnya, atau kau yang datang kerumahku?
- Sebaiknya kita berangkat sekarang saja, atau kita tunggu dulu kedatangan beliau.

Catatan:
Kalau yang harus dipilih terdiri dari lebih dua unsur, maka kata penghubung atau ditempatkan diantara kedua unsur yang terakhir.
Contoh:
- Teh, kopi, atau air putih yang hendak kau minum.
- Nama anak itu Difa, Dika atau Dita?

5. Kata Penghubung tetapi
Kata hubung tetapi dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan pertentangan" digunakan di antara bagian berikut.
a. Dua buah kata sifat yang berkontras di dalam sebuah kalimat.
Contoh:
- Anak itu cerdas tetapi malas
- Dia memang bodoh tetapi rajin

b. Dua buah klausa yang subjeknya merujuk pada identitas yang sama sedangkan predikatnya adalah dua buah kata sifat yang berkontras.
Contoh:
- Rumah itu besar dan indah, tetapi halamannya sempit
- Anak itu memang bodoh, tetapi hatinya jujur

c. Dua buah klausa yang subjeknya merujuk pada pada identitas yang tidak sama dengan predikatnya adalah dua buah kata sifat yang berlawanan.
Contoh:
- Ali sangat pandai tetapi Sudin sangat bodoh
- Di luar rumah sangat gelap sekali, tetapi di dalam terang benderang

d. Dua buah klausa yang klausa pertama berisi pertanyaan dan klausa kedua berisi pengingkaran dengan kata tidak.
Contoh:
- Kami ingin melanjutkan sekolah tetapi tidak ada biayanya
- Saya memang hadir di sana tetapi tidak melihat hal-hal yang mencurigakan

Catatan:
Kata penghubung tetapi  tidak dapat digunakan sebagai penghubung antar kalimat
Contoh: 
- Saya ingin terus belajar. Tetapi ayah menyuruh saya bekerja 
(Seharusnya: Saya ingin terus belajar, tetapi ayah menyuruh saya bekerja.)
- Ibu mengizinkan saya pergi ke sana. Tetapi ayah melarang
(Seharusnya: Ibu mengizinkan saya pergi, tetapi ayah melarang) 

6. Kata Penghubung namun
Kata penghubung namun dengan fungsi "menggabungkan mempertentangkan" digunakan di antara dua buah kalimat. Kalimat pertama atau kalimat sebelunya berisi penyatuan dan kalimat kedua berisi pernyataan yang kontras dengan kalimat pertama.
Contoh:

  • Sejak kecil dia kami asuh, kami didik, dan kami sekolahkan. Namun, setelah dewasa menjadi orang besar dia lupa kepada kami.
  • Sehabis lebaran banyak kantor masih sepi. Pegawai-pegawai cuma duduk-duduk, mengobrol, atau baca koran. Namun, mereka tetap berada di tempat sampai jam kantor.
Catatan:
1). Kata penghubung namun sesungguhnya sama fungsinya dengan kata penghubung tetapi. Namun, kata penghubung tetapi hanya digunakan sebagai penghubung antar klausa, sedangkan kata penghubung namun digunakan sebagai penghubung antar kalimat. Perhatikan contoh-contoh diatas. 2). Kata penghubung namun untuk lebih menegaskan, dapat diikuti kata begitu dan demikian.
Contoh:

  • Sejak kecil dia kami asuh, kami didik, dan kami sekolahkan. Namun begitu, setelah dewasa menjadi orang besar dia lupa kepada kami.
  • Dia memang bandel, keras kepala, dan suka membantah. Namun demikian, hatinya baik dan suka menolong.
7. Kata Penghubung sedangkan
Kata penghubung ini dengan fungsi untuk "menggabungkan mempertentangkan atau mengkontraskan" digunakan di antara dua buah klausa.

Contohnya:
  • Ayah menjadi dokter di puskesmas, sedangkan ibunya menjadi bidan.
  • Kami bekerja keras memperbaiki tanggul yang jebol itu, sedangkan mereka berdua duduk-duduk saja berpangku tangan.
8. Kata penghubung sebaliknya
Kata penghubung sebaliknya dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan mempertentangkan dengan tegas" dapat digunakan di antara dua buah klausa atau di antara dua buah kalimat.
Contoh:
Di hadapan kita dia memang ramah. Sebaliknya, jauh dari kita sombongnya bukan main.
Muara sungai itu lebar dan dangkal. Sebaliknya, di bagian hulu sungai itu sempit dan dalam.

9. Kata Penghubung malah dan malahan
Kata penghubung malah dan malahan  dengan fungsi untuk "menguatkan mempertentangkan" digunakan di antara dua buah klausa tentang amanat keduanya bertentangan.
Contoh:
- Diberi pertolongan bukannya mengucapkan terima kasih, malah ia memburuk-burukkan nama kita

10. Kata Penghubung bahkan
Kata penghubung bahkan dengan fungsi "menggabungkan menguatkan" dapat digunakan di antara dua buah kalimat.
Contohnya:
- Anak itu memang nakal. Bahkan ibunya sendiri pernah ditipunya.
- Dia pandai sekali memegang rahasia. Bahkan kita sendiri tidak tahu.

11. Kata Penghubung lagipula
Contohnya: 1) Saya tidak hadir karena sakit. Lagipula saya tidak diundang.  2). Mari kita makan di restoran ini saja, masakannya enak, harganya murah, lagipula pelayanannya memuaskan.

12. Kata Penghubung apalagi
Kata penghubung apalagi dengan fungsi untuk menyatakan "menggabungkan menguatkan" digunakan pada awal keterangan tambahan atau kalimat tambahan.
Contoh:
- Kamu saja yang lulusan SMA tidak tahu, apalagi saya yang cuma tamatan SD 
-  Jalan-jalan di ibu kota seringkali macet. Apalagi pada jam-jam sibuk.

Catatan:
1). Secara optimal kata penghubung apalagi dapat diikuti kata kalau atau jika, bila digunakan pada kalimat yang tidak bersubjek.
Contoh: Hawa disini sejuk sekali, Apalagi kalau malam hari. Saya tidak dapat hadir. Apalagi jika tidak dijemput.

2) Kata penghubung lebih-lebih pula atau lebih-lebih lagi dengan fungsi untuk menyatakan "menguatkan" dapat digunakan pada awal keterangan tambahan atau kalimat tambahan, sebagai varian dari kata penghubung apalagi atau apalagi kalau. Contoh: Anak itu memang nakal, lebih-lebih lagi di sekolah. Saya tidak mau bicara dengan dia, lebih-lebih pula kalian sikapnya begitu. 
13. Kata Penghubung itupun
Kata penghubung itupun dengan fungsi "menggabungkan menguatkan" dapat digunakan diantara dua buah kalimat yang amanatnya sejalan. Kalimat pertama biasanya diawali dengan kata penghubung hanya.
Contoh:
- Hanya lima orang yang hadir dalam rapat itu. Itupun dua orang diantara mereka sudah akan meninggalkan rapat sebelum selesai. 
- Hanya seribu rupiah yang akan dapat kuberikan. Itupun sebenarnya lembaran uangku stu-satunya yang terakhir.

14. Kata Penghubung  jangankan
Kata penghubung jangankan dengan fungsi "menguatkan mempertentangkan" digunakan pada bagian berikut.
a. Di depan klausa pertama pada sebuah kalimat majemuk setara sedangkan pada klausa kedua biasanya disertakan partikel pun.
Contohnya:
Jangankan berjalan, berdiri pun aku tak sanggup
Jangankan seribu, seripiah pun tak punya

b. Di depan klausa pertama pada sebuah kalimat majemuk setara sedangkan klausa keduanya diawali dengan kata sedangkan.
Contohnya:
Jangankan cuma mendaki bukit itu, sedangkan Gunung Merapi yang lebih tinggi sudah pernah kudaki
Jangankan membeli buku, sedangkan untuk membeli makanan saja uangku tak pernah cukup. 

c. Di depan klausa pertama pada sebuah kalimat majemuk setara seangkan klausa keduanya diawali dengan kata "malah" atau "malahan."
Contohnya:
Jangankan membantu kita, malah kita yang harus membantunya
Jangankan dapat menabung untuk masa depan, malah untuk biaya makan sehari-hari saja tidak cukup

15. Kata Penghubung melainkan
Kata penghubung ini dengan fungsi untuk menyatakan "koreksi atau pembetulan" digunakan diantara dua buah klausa. Klausa pertama biasanya disertai dengan kata ingkar bukan, yang diletakan di muka unsur kalimat yang akan dikoreksi.
Contoh:
Kami bukan mengejek, melainkan mengatakan apa adanya

16. Kata Penghubung hanya
Kata penghubung hanya digunakan dengan aturan sebagai berikut:
a. Untuk menyatakan "menggabungkan-mengecualikan" digunakan diantara dua buah klausa.
Contohnya:
Semua orang setuju, hanya dia yang tidak setuju
Kami semua sudah siap untuk bertransmigrasi, hanya dia yang masih ragu-ragu

b. Untuk menyatakan "menggabungkan mengoreksi" digunakan di antara dua buah klausa. Klausa pertama berisi pertanyaan positif, dan klausa kedua berisi pertanyaan yang mengurangi kepositifan klausa pertama.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 2:12 PM

Saturday, February 1, 2014

Kata-kata yang digunakan di depan kata benda untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain disebut kata depan. Umpama kata-kata di, dengan dan oleh pada kalimat berikut:
(1). Kakek tinggal di desa.
(2). Nenek menulis dengan sepidol.
(3). Jembatan ini dibangun oleh pemerintah.
Dilihat dari fungsinya, kata depan menyatakan hal-hal berikut:
  1. Tempat berada, yaitu; di, pada, dalam, atas dan antara.
  2. Arah asal, yaitu; dari.
  3. Arah tujuan, yaitu; ke, kepada, akan, dan terhadap.
  4. Pelaku, yaitu; oleh.
  5. Alat, yaitu; dengan dan berkat.
  6. Perbandingan, yaitu; daripada.
  7. Hal atau masalah, yaitu; tentang dan mengenai.
  8. Akibat, yaitu; hingga dan sampai.
  9. Tujuan, yaitu; untuk, buat, guna, dan bagi. 
A. Kata Depan dalam
Kata depan dalam digunakan dengan aturan sebagai berikut.
  1. Untuk menyatakan tempat berada digunakan di depan kata benda sebagai variasi dari kata depan di dalam. Contoh: 1). Jangan bermain dalam kelas, 2). Buku itu disimpan dalam lemari, 3). Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
  2. Untuk menyatakan "berada dalamsuatu situasi atau peristiwa" digunakan di depan kata benda. Contoh; a). Kita harus hati-hati dalam pergaulan di kota besar. b). Dalam perjalanan ke Eropa, kami singgah di Kairo. c). Dalam bentrokan itu beberapa orang menjadi korban.
  3. Untuk menyatakan "jangka waktu", digunakan di muka kata yang menyatakan lama waktu. Contoh; a). Pekerjaan itu akan selesai dalam beberapa hari. b). Dalam waktu 2 jam perampok itu telah dapat dibekuk. c). Kredit vespa diangsur dalam waktu 2 tahun.
B. Kata Depan atas
Kata depan atas  dapat digunakan dalam aturan seperti berikut:
1. Untuk menyatakan "tempat" digunakan di depan kata benda sebagai varian dari kata di atas.
Contoh; 
a. Kami berdiri atas keadilan dan kebenaran.
b. Beban yang dipikulkan atas pundak rakyat sudah terlalu berat.
c. Berbagai masalah telah menimpa atas diri kami.

2. Untuk menghubungkan predikat intransitif dengan pelengkapnya.
Contoh;
a. Mereka berhak atas barang-barang itu.
b. Kami menyesal atas kejadian itu.
c. Saya ikut berduka cita atas musibah itu.
Catatan: Kata depan atas digunakan juga dalam beberapa ungkapan yang sudah tetap, seperti:
a. atas nama
b. atas kehendak
c. atas anjuran
d. atas permintaan, dan
e. atas desakan.

C. Kata  Depan antara
Kata depan antara digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "jarak", digunakan di depan dua buah kata benda yang menyatakan tempat yang dirangkaikan dengan kata depan dan.
Contoh:
a. Banjir melanda daerah antara Bekasi dan Karawang.
b. Jarak antara Jakarta dan Bogor hanya 60 km.
c. Bedanya antara langit dan bumi.

2. Untuk menyatakan "adanya dua pihak", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan, yang dirangkaikan dengan kata  depan dengan.
Contoh:
a. Perang antara Iran dan Irak semakin hebat.
b. Perundingan antara Indonesia dan Malaysia sedang berlangsung.
c. Perdamaian antara Mesir dan Israel tidak bisa kekal.

3. Untuk menyatakan "suatu tempat, suatu saat, suatu keadaan atau hal", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan tempat atau waktu (atau di muka dua buah kata lain yang menyatakan keadaan) yang dirangkaikan dengan kata depan dengan.
Contoh:
a. Tabrakan itu terjadi di jalan raya antara Yogyakarta dan Solo.
b. Pencarian itu terjadi antara pukul tiga dan pukul empat pagi.
c. Antara tidur dan jaga saya mendengar suara ketukan pintu.

D. Kata Depan kepada
Kata depan kepada digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "tempat yang dituju", digunakan di muka objek dalam kalimat yang predikatnya mengandung pengertian "tertuju terhadap sesuatu".
Contoh:
a. Personalia itu telah dilaporkan kepada Gubernur.
b. Harus melapor dulu kepada bagian keamanan.
c. Kami akan minta bantuan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Catatan:
Kalau kata depan ke menyatakan "arah tempat yang sebenarnya" maka kata depan kepada menyatakan "arah tempat yang tidak sebenarnya". Bandingkan contoh berikut;
- Kembali ke desa.
- Kembali kepada UUD 1945.

2. Untuk menyatakan "arah yang dituju", dapat digunakan sebagai varian kata depan akan.
Contoh; 
a. Ia takut sekali kepada hantu.
b. Kami selalu ingat kepada ibunya.
c. Dia sudah lupa kepada kewajibannya.

E. Kata Depan akan
Kata depan akan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menunjuk objek, digunakan di dalam kalimat yang predikatnya menunjukkan sikap batin.
Contoh:
a. Saya masih ingat akan peristiwa bersejarah itu.
b. Dia baru sadar akan keluarganya.
c. Kami sudah bosan akan lagu-lagu itu.

2. Untuk menguatkan kata yang berada di belakangnya, dapat digunakan sebagai tumpuan kalimat. Dalam hal ini dapat diganti dengan kata tentang, mengenai, atau adapun.
Contoh:
a. Akan budi baikmu itu, tentu tak bisa kami lupakan.
b. Akan hutang-hutangmu itu tidak usahlah terlalu kau pikirkan.
c. Akan sawah dan ladang di sana, biarlah diurus oleh paman Hasan.
Catatan:
Sebagai penunjuk "maksud" atau "tujuan", kata depan akan sebaiknya tidak digunakan. Kedudukannya lebih baik diganti dengan kata untuk.
Contoh:
a. Daunnya baik akan obat sakit perut.
(sebaiknya diganti dengan: Daunnya baik untuk obat sakit perut)
b. Latihan diadakan akan mempertinggi kemampuan.
(sebaiknya diganti dengan: Latuhan diadakan untuk mempertinggi kemampuan.
c. Disediakan uang akan biaya rapat itu.
(sebaiknya diganti dengan: Disediakan uang untuk rapat itu.

F. Kata Depan terhadap
Kata depan terhadap digunakan dengan aturan sebagai berikut:
1. Untuk menyatakan "sasaran perbuatan", digunakan di muka kata benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan. Kedudukannya dapat diganti dengan kata depan kepada.
Contoh:
a. Saya tidak takut terhadap siapa saja.
b. Terhadap saya dia tidak berani berbuat curang.
c. Terhadap ibunya dia berani berkata begitu, apalagi kepada kita.

2. Untuk menyatak "perihal", digunakan dimuka kata benda. Kedudukannya dapan diganti dengan kata depan kepada.
Contoh:
a. Kami tidak ragu-ragu lagi terhadap kejujuranmu.
b. Kami akan menentukan sikap terhadap perbuatan itu.
c. Peristiwa itu merupakan batu ujian terhadap keteguhan hatinya.

G. Kata Depan oleh
Kata depan oleh digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "pelaku perbuatan", digunakan di muka objek pelaku dalam kalimat pasif.
Contoh:
a. Pabrik pupuk itu akan diresmikan oleh Presiden SBY.
b. Buku pelajaran matematika itu diterbitkan oleh Balai Pustaka.
c. Jembata ini dibangun  oleh pemerintah pusat.

2. Untuk menyatakan "sebab", digunakan dlam kalimat yang predikatnya berupa kata sifat atau kata yang menyatakan keadaan.
Contoh:
a. Pertahanan mereka hancur oleh serangan Israel.
b. Bajunya basah oleh keringat.
c. Tanaman kami rusak oleh hama wereng.

H. Kata Depan dengan
Berikut ini aturan kata depan dengan.
1. Untuk menyatakan "alat", digunakan di muka kata benda yang menyatakan alat.
Contoh;
a. Adik menulis dengan spidol.
b. Hasil ujian seleksi diperiksa dengan komputer.
c. Penjahat itu menodong saya dengan pistol.

2. Untuk menyatakan "beserta", digunakan di muka kata benda yang menyatakan orang.
Contoh:
a. Dia datang dengan ibunya.
b. Kapal itu tenggelam dengan segala isinya.
c. Adik pergi dengan kawan-kawannya.

3. Untuk menyatakan "cara atau sifat perbuatan", digunakan di muka kata sifat atau kata keterangan.
Contoh:
a. Kami diperiksa dengan teliti.
b. Mereka bermain dengan gembira.
c. Saudara akan kami terima dengan senang hati.

Catatan:
Kata depan dengan digunakan juga dalam beberapa ungkapan tetap yang menyatakan sumpah atau alat, seperti berikut; Dengan nama Alloh, Dengan rahmat Tuhan, Dengan karunia Yang Maha Esa, Dengan titah baginda, Dengan restu presiden
I. Kata Depan berkat
Kata depan berkat digunakan di depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "sebab yang memberi pengaruh untuk terjadinya sesuatu".
Contoh:
a. Kemerdekaan ini dapat kita raih berkat pengorbanan para pejuang.
b. Berkat doa saudara-saudara, kami berhasil membawa kembali gelar juara ini.
c. Berkat bantuan Anda, saya terbebas dari kesulitan ini.

J. Kata Depan tentang
Kata depan tentang digunakan di depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "perihal" atau "masalah".
Contoh:
a. Mereka berdebat tentang peranan pemuda dalam pembangunan.
b. Tentang perundingan itu sendiri tidak banyak dibicarakan lagi.
c. Menlu Mochtar memberi keterangan penjang lebar tentang peristiwa yang dialami Tim Verifikasi RI di Irian Jaya.

K. Kata Depan sampai
Kata depan ini digunakan untuk menyatakan "batas tempat atau batas waktu" digunakan di muka kata benda yang menyatakan tempat atau menyatakan waktu.
Contoh:
a. Kami berjalan kaki sampai desa Jatisari.
b. Bacalah sampai halaman 43!
c. Mereka belajar sampai larut malam.

L. Kata Depan guna
Kata depan guna untuk menyatakan adanya pertalian perihal" sebagai varian kata depan untuk, digunakan di muka kata benda berimbuhan gabung ke-an.
Contoh:
a. Guna kebahagiaan anak-anak itu, biarlah kita mengalah.
b. Guna kesehatan kita bersama, janganlah merokok di ruangan ini.
c. Guna kepentingan umum kami rela berkorban.

Tetapi disini penggunaannya tidak dianjurkan. Lebih baik gunakan kata depan gabung untuk.

M. Kata Depan demi
1. Untuk menyatakan "tekad", digunakan di depan kata benda berimbuhan gabung ke-an.
Contoh: 
a. Kami akan bekerja keras demi  kesejahteraan keluarga.
b. Demi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
c. Saya berjuang demi kebenaran dan keadilan.

2. Untuk menyatakan "berurutannya yang satu dari yang lain" digunakan di antara dua buah kata bilangan yang sama.
Contoh:
a. Diangkatnya batu itu satu demi satu.
b. Seorang demi seorang, secara diam-diam meninggalkan ruang sidang itu.
c. Kertas itu dibakarnya selembar demi selembar.

3. Untuk menyatakan sumpah, digunakan di depan nama Tuhan, Dewa, dan lain-lain yang dianggap berkuasa.
Contoh:
a. Demi Alloh saya tidak pernah mengambil bukumu.
b. Demi Tuhan saya tidak tahu menahu dengan urusan itu.
c. Demi yang menguasai alam dengan segenap isinya saya bersumpah akan tetap tinggal disini.

N. Kata Depan untuk
Kata depan untuk digunakan dengan aturan sebagai berikut:

  1. Untuk menyatakan "tujuan" atau "sasaran perbuatan", digunakan dimuka kata benda orang yang diorangkan. Contoh; Beliau membawa oleh-oleh untuk kami; Pupuk dikirim untuk para petani; Ayah membeli sepatu untuk ibu.
  2. Untuk menyatakan adanya pertalian perihal digunakan di depan kata benda atau frase benda. Biasanya ditempatkan pada awal kalimat. Contoh; Untuk kepentingan umum, kami rela berkorban; Untuk dia, uang saja tidak ada artinya; Hadiah dua juta rupiah disediakan untuk karangan terbaik.
O. Kata Depan bagi
Kata depan ini dapat digunakan untuk menyatakan "adanya pertalian perihal", sebagai varian kata depan untuk. 
Contoh;
a. Bagi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
b. Bagi saya jadi pergi atau tidak, tidak menjadi soal.
c. Bagi karangan terbaik disediakan hadiah menarik.

P. Kata Depan menurut
Kata depan ini dengan fungsi untuk menyatakan "sesuai dengan yang dikatakan", digunakan di depan kata benda atau frase benda yang menyatakan orang.
Contoh:
a. Menurut undang-undang yang berlaku, saudara telah berbuat salah.
b. Menurut  ketua organisasi itu siapa saja boleh mendaftar jadi anggota.
c. Menurut ibu, saya sebaiknya menjadi pelukis saja.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 8:13 PM