Thursday, January 16, 2014

Dapatkan kita menyusun kalimat tanpa menggunakan kata? Jawabannya TIDAK!! Kalimat tersusun atas beberapa kata, setiap kata memiliki fungsi yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat kalimat menjadi beragam. Selain kata, kalimat juga memerlukan tanda baca, tanda baca digunakan untuk menandai beberapa jenis kalimat, jadi keragaman jenis kalimat disebabkan pula oleh tanda baca yang digunakan.  Lalu apa sajakah ragam kalimat bahasa Indonesia? Ragam kalimat bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
  1. Kalimat berita.
  2. Kalimat tanya
  3. Kalimat perintah
  4. Kalimat seru
  5. Kalimat aktif dan pasif
  6. Kalimat lengkap dan tidak lengkap
  7. Kalimat Normal dan inversi
  8. Kalimat tunggal dan majemuk
  9. Kalimat positif dan negatif
  10. Kalimat langsung dan tidak langsung
Baiklah langsung saja saya akan mengulasnya satu persatu. 

1. Kalimat Berita
Kalimat berita disebut kalimat deklaratif, kalimat berita digunakan untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain. Pemberitahuan ini mengharapkan tanggapan dari orang yang diajak bicara. Tanggapan yang diharapkan berupa perhatian. Perhatian ini dapat diikuti dengan anggukan atau jawaban Ya.
Berbagai informasi dapat disampaikan melalui kalimat berita. Misalnya, ketika melihat peristiwa kecelakaan di jalan raya, dua sepeda motor bertabrakan. Kita akan menginformasikan peristiwa itu kepada teman kita. Kita dapat menyampaikannya dengan kalimat-kalimat berikut:
1. Saya melihat kecelakaan lalu lintas.
2. Dua sepeda motor bertabrakan.

Bagaimana ciri kalimat berita?
Kalimat berita diakhiri dengan tanda titik (.). Di dalam kalimat berita boleh digunakan tanda baca lain. Misalnya, tanda koma (,), tanda titik dua (:), atau tanda titik koma (;). Jika diucapkan, kalimat berita menggunakan intonasi netral. 
Didalam kalimat berita tidak boleh terdapat kata tanya. Kata-kata yang dimaksud yaitu apa, siapa, di mana, dan mengapa. Dalam kalimat berita juga tidak boleh menggunakan kata-kata ajakan seperti: mari dan ayo. Kata silakan dan jangan juga tidak digunakan dalam kalimat berita.

2. Kalimat Tanya
Kalimat tanya disebut juga kalimat interogatif. Kalimat tanya digunakan untuk menanyakan sesuatu. Jika diucapkan, kalimat tanya diakhiri dengan nada naik. 

Bagaimana membentuk kalimat tanya?
Kalimat tanya dapat dibentuk dengan cara sebagai berikut.
1. Menambahkan kata tanya.
2. Menambahkan partikel -kah
3. Membalikan urutan kata dalam kalimat berita.
4. Memakai kata bukan atau tidak
5. Menambahkan tanda tanya (?)

1. Didalam bahasa Indonesia terdapat sejumlah kata tanya. 
  1. Kata tanya apa digunakan untuk menanyakan benda, tumbuhan, dan hewan.
  2. Kata tanya siapa digunakan untuk menanyakan manusia.
  3. Kata tanya berapa digunakan untuk menanyakan jumlah dan bilangan.
  4. Kata tanya di mana, ke mana, dari mana, digunakan untuk menanyakan tempat.
  5. Kata tanya bila, kapan, bilamana, untuk menanyakan waktu.
  6. Kata tanya mengapa digunakan untuk menanyakan perbuatan dan sebab.
  7. Kata tanya bagaimana digunakan untuk menanyakan cara atau keadaan.
2. Partikel -kah membentuk kata tanya, partikel ini melekat pada kata tanya atau pada kata dalam kalimat tersebut.

3. Penggunaan kata bukan atau tidak
Contoh:
Mereka tahu jika ulangannya diundur, bukan?

4. Ada aturan membentuk kalimat tanya dengan membalikan urutan kata.
  • Memindah kata ke permulaan kalimat. Kata yang dapat dipindah adalah dapat, bisa, harus, sudah, dan mau. Kata-kata itu ditambah partikel -kah. Contoh: Rini dapat memainkan piano. Kalimat itu dapat dibalik menjadi. Dapatkah Rini memainkan piano?
  • Mengubah urutan subjek dan predikat. Aturan ini berlaku jika predikat berupa kata benda atau sifat. Kemudian predikat diberi partikel -kah. Contoh: Siska adik Andika, menjadi Adik Andikakah Siska?
  • Memindahkan predikat ke awal kalimat, kemudian predikatnya diberi partikel -kah. Contoh: Bibi Santi datang hari ini. Datangkah bibi Santi hari ini?
Berdasarkan jawaban yang diperlukan, terdapat dua jenis kalimat tanya.
  • Kalimat tanya biasa. Adalah kalimat tanya yang membutuhkan jawaban dari orang lain. Semua contoh kalimat tanya pada pembahasan sebelumnya termasuk kalimat tanya biasa.
  • Kalimat tanya retoris. Adalah kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban. Pembuat pertanyaan sebetulnya sudah tahu jawabannya. Contoh: Siapakah diantara kalian yang tidak ingin lulus?. Apakah kita akan menerima kekalahan lagi? Kalimat tanya ini digunakan dalam berpidato, tujuannya adalah untuk menarik perhatian.
3. Kalimat Perintah
Kalimat perintah disebut juga kalimat imperatif. Kalimat perintah digunakan untuk meminta orang lain melakukan sesuatu. Dalam bentuk tulis, kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru (!). Dalam bentuk lisan, kalimat perintah diakhiri dengan nada agak naik.

Kalimat perintah dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok. Perhatikan tabel berikut.

No

Jenis
Keterangan
Contoh
1.
Kalimat perintah sebenarnya
  • Kalimat perintah ini menggunakan predikat kata kerja.
  • Subjek dapat dibuang atau digunakan.
  • Pergi!
  • Tidurlah kamu sekarang!
2.
Kalimat Persilaan
  • Kalimat ditandai dengan penggunaan kata silakan
  • Kata silakan diletakan pada awal kalimat
  • Silakan makan
  • Silakan masuk ke ruang utama, pak!
3.
Kalimat ajakan
  • Kalimat ini mengharapkan tanggapan berupa tindakan.
  • Kata ditandai dengan penggunaan kata ayo, mari, ayolah, dan marilah.
  • Mari kita bersihkan kotoran ini!
  • Ayo, kita junjung persatuan dan kesatuan bangsa!
4.
Kalimat Larangan
  • Kalimat ditandai pengunaan kata jangan.
  • Kalimat menggunakan partikel -lah untuk memperhalus kalimat
  • Jangan membuang sampah sembarangan.
  • Janganlah kamu mengulangi perbuatan itu lagi

Selain keempat jenis kalimat perintah tersebut, ada juga kalimat perintah bentuk positif. Kalimat perintah ini menggunakan predikat bentuk pasif. Dalam bentuk tulisan, kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru (!). Dalam bahasa lisan, kalimat perintah ini ditandai dengan nada yang agak naik.
Contoh:
- Dibuang saja kardus-kardus itu!
- Dibakar saja sampah-sampah itu!
Kalimat perintah ini dirasa lebih halus. Orang yang disuruh seolah-oah tidak merasa secara langsung diperintah untuk melakukan sesuatu.

4. Kalimat Seru
Kita dapat mengungkapkan rasa kagum terhadap sesuatu. Ungkapan kekaguman tersebut dapat diwujudkan dengan kalimat seru. Kalimat seru disebut juga kalimat interjektif. Kalimat ini digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Kalimat seru dapat disusun dengan cara berikut:
1. Membalikan urutan kalimat dari S-P menjadi P-S
Pemandangan    indah  >>  Indah   pemandangan
          S                    P                 P                  S

2. Menambahkan -nya pada P yang berada di depan
Indahnya pemandangan

3. Didepan P ditambah kata seru alangkah atau bukan main
Alangkah indahnya pemandangan

Apa sajakah jenis kalimat seru?
Kata seru berdasarkan pengelompokan jenis kata seru.
  • Kata seru bernada negatif menggunakan kata seru cih, cis, bah, ih, idih, brengsek, dan sialan.
  • Kata seru bernada positif menggunakan kata seru aduhai, amboi, asyik, Insya Alloh, Alhamdullillah, dan syukur.
  • Kata seru bernada keheranan menggunakan kata seru ai, lo, astaghfirulloh, dan massa alloh.
  • Kata seru netral/campuran menggunakan kata seru aduh, hai, wahai, oh, nah, wah, astaga, dan halo.
5. Kalimat Aktif
Kalimat aktif disebut kalimat tindak. Kalimat aktif adalah kalimat yang unsir subjek menjadi pelaku tindakan dan unsur predikatnya menyatakan perbuatan.
Kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Aturan perubahannya adalah sebagai berikut:
1. Subjek pada kalimat aktif berubah menjadi objek pada kalimat pasif.
2. Predikat yang berawalan me- berubah menjadi berawalan di-.
3. Kalimat aktif tidak berobjek tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif.

Lalu bagaimanakah ciri-ciri kalimat aktif?
Kalimat aktif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Seubjeknya melakukan perbuatan.
2. Predikat berupa kata kerja yang berawalan me- atau ber-.
3. Kalimat aktif ada yang menghendaki hadirnya objek.
4. Kalimat aktif ada yang tidak menghendaki objek. Setelah predikat, kalimat diikuti pelengkap atau keterangan.
Baju   berwarna   biru
   S             P           Pel
5. Kalimat aktif berpola S-P-O-K atau S-P-Pel-Ket.

6. Kalimat Pasif
Rambut  disisir  Linda  dengan  sisir.
      S            P         O         Ket. Alat

Kalimat diatas merupakan kalimat pasif dimana subjek dikenai pekerjaan.

Baiklah, mari kita bahas tentang kalimat pasif. Kalimat pasif disebut kalimat tanggap. Kalimat pasif adalah kalimat yang unsur subjek dikenai atau menderita akibat perbuatan yang dilakukan oleh objek.
Kalimat pasif berkaitan dengan:
1. Jenis kata kerja yang digunakan sebagai predikat.
2. Fungsi subjek dan objek dalam kalimat; serta
3. Bentuk kata kerja yang digunakan.

Bagaimanakah ciri-ciri kalimat pasif?
  • Subjek dikenai perbuatan
  • Predikat menggunakan kata kerja bentuk pasif. Predikat berawalan di- atau ter-. Contoh: Kertas ujian tersobek petugas.
  • Kata kerja berawalan ter- digunakan jika kalimatnya mengandung unsur ketidaksengajaan.
  • Kalimat pasif yang menggunakan kata berimbuhan ter- ada yang menunjukkan bahwa sesuatu memang harus begitu. Contoh; Danau toba terletak di Provinsi Sumatra Utara.
  • Kadang-kadang kata kerjannya didahului dengan kata ganti orang ku- dan kau-. Contoh: Buah jambu telah kumakan.
  • Kalimat pasif menggunakan kata berimbuhan ke-an. Contohnya: Rumahnya kemasukan air.
  • Kata oleh dalam kalimat pasif dapat dihilangkan. 
Sekilas Info!!
Pola Kalimat Pasif.
  • S-P (Rumah  dijual)
  • S-P-O (Dewi dihukum guru)
  • S-P-Pel. (Mejanya dicat hijau)
  • S-P-K (Piala diangkat tinggi-tinggi)
  • S-P-O-K (Semangka dibeli ibu kemarin)
Kalimat-kalimat pasif tersebut dapat diubah menjadi kalimat aktif, aturan perubahannya adalah sebagai berikut:

1. Subjek kalimat pasif menjadi objek kalimat aktif.
Contoh;
Kalimat pasif
Deni  diejek  teman-temannya
   S         P                   O
Kalimat aktif
Teman-temannya   mengejek  Deni
               S                        P             O

2. Predikat kata kerja di-, diubah menjadi kata kerja berawalan me-.

3. Kata ganti ku- berubah menjadi aku.
Contohnya:
Buah jambu sudah kumakan tadi.
Aku sudah makan buah jambu tadi

4. Kata ganti ku- berubah menjadi engkau atau kamu.
Contoh:
Jangan kauambil kue-kue itu!
Engkau jangan mengambil kue itu!
Kamu jangan mengambil kue itu!

5. Kata oleh pada kalimat pasif dihilangkan pada kalimat aktif.
Contoh:
Kalimat pasif
a. Tarian dibawakan oleh siswa kelas VI
b. Susi diantar oleh ayah
Kalimat aktif
a. Siswa kelas VI membawakan tarian
b. Ayah mengantar Susi.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 8:22 PM

Saturday, January 11, 2014

A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
-Ibu percaya bahwa engkau tahu.
-Kantor pajak penuh sesak.
-Buku itu sangat tebal.

B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
-bergetar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
-bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan.

3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsure gabungan kata itu ditulus serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
-menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancurleburan

4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. 
Misalnya:
adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur, inkonvensional, introspeksi, kolonialisme, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolaborasi, Pancasila, panteisme, paripurna, poligami, pramuniaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida, semiprofessional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal, ultramodern

catatan:
1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu harus dituliskan tanda hubung (-).

Misalnya:
non-Indonesia, pan-Afrikanisme
2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita beersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupukupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik hura-hura, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebuta kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linier, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan,

ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda.
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
Adakalanya, akhirulkalam, Alhamdulillah, astaghfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, karatabaasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturrahmin, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

E. Kata Ganti -ku-, kau-, -mu, dan -nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku-, -mu, dan -nya
ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
-Apa yang kumiliki boleh kaumabil.-Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalamgabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
-Kain itu terletak di dalam lemari.-Bermalam sajalah di sini.-Di mana Siti sekarang?-Mereka ada di rumah.-Ia ikut terjun di tengah kancah perjuangan.-Ke mana saja ia selama ini?-Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.-Mari kita berangkat ke pasar.-Saya pergi ke sana-sini mencarinya.-Ia datang dari Surabaya kemarin.
Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini dtulis serangkai.

Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa hadir dalam kenduri itu.
G. Kata Si dan Sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
-Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.-Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
H. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
-Bacalah buku itu baik-baik.-Apakah yang tersirat dalam dalam surat itu?-Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia.-Siapakah gerangan dia?-Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
-Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.-Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.-Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.-Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun,bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun,sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
-Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.-Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.-Baik mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.-Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.-Walaupun miskin, ia selalu gembira.
3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat
yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
-Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.-Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.-Harga kain itu Rp 2.000,00 per helai.
I. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
-A.S Kramawijaya-Muh. Yamin-Suman Hs.-Sukanto S.A.-M.B.A master of business administration-M.Sc. master of science-S.E. sarjana ekonomi-S.Kar. sarjana karawitan-S.K.M sarjana kesehatan masyarakat-Bpk. Bapak-Sdr. saudara-Kol. kolonel
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
-DPR Dewan Perwakilan Rakyat-PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia-GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara-SMTP sekolah menengah tingkat pertama-PT perseroan terbatas-KTP kartu tanda penduduk
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
-dll. dan lain-lain-dsb. dan sebagainya-dst. dan seterusnya-hlm. halaman-sda. sama dengan atas-Yth. (Sdr. Moh. Hasan) Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)
Tetapi:
-a.n. atas nama-d.a. dengan alamat-u.b. untuk beliau-u.p. untuk perhatian
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
-Cu cuprum-TNT trinitrotulen-cm sentimeter-kVA kilovolt-ampere-l liter-kg kilogram-Rp (5.000,00) (lima ribu) rupiah
2. Akronim kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti
tanda titik.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis selurhnya dengan huruf capital.
Misalnya:
-ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia-LAN Lembaga Administrasi Negara-PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia-IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan-SIM surat izin mengemudi
b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaptal.
Misalnya:
-Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia-Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional-Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia-Kowani Kongres Wanita Indonesia-Sespa Sekolah Staf Pimpinan Administrasi
c. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
-pemilu pemilihan umum-radar radio detecting and ranging-rapim rapat pimpinan-rudal peluru kendali-tilang bukti pelanggaran
catatan:
jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
J. Angka dan Lambang
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor.
Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
-Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
-Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000)

Pemakaiannya diatur leih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjagng, berat, luas, dan isi, (ii) satuan
waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya:
-0,5 sentimeter 1 jam 20 menit-5 kilogram pukul 15.00-4 meter persegi tahun 1928-10 liter 17 Agustus 1945-Rp5.000,00 50 dolar Amerika-US$3.50* 10 paun Inggris-$5.10* 100 yen-Y100 10 persen-2.000 rupiah 27 orang* Tanda titik di sini merupakan tanda decimal.
3. Angka lazim dipakai untuk melambangka nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar
pada alamat.
Misalnya:
-Jalan Tanah Abang I No. 15-Hotel Indonesia, Kamar 169
4. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
-Bab X, Pasal 5, halaman 252-Surah Yasin: 9
5. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan utuh
Misalnya:
-Dua belas 12-Dua puluh dua 22-Dua ratus dua puluh dua 222
b. Bilangan pecahan
Misalnya:
-Setengah ½-Tiga perempat ¾-Seperenam belas 1/16-Tiga dua pertiga 3 2/3-Seperseratus 1/100-Satu persen 1 %-Satu permil 1‰-Satu dua persepuluh 1,2
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
Paku Buwono X; pada awal abad XX; dalam kehidupan abad ke-20 ini; lihan Bab II; Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu.
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara yang berikut.
Misalnya:
-tahun ’50-an atau tahun lima puluhan-uang 5000-an atau uang lima ribuan-lima uang 1.000-an atau lima uang seribuan
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya:
-Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

-Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
-Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
-Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
-Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.-Pak Darmo mengundang 250 orang tamu
Bukan:
-15 orang tews dalam kecelakaan itu.-Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.-10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh secara besar dapat dieja
Misalnya:
-Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.-Penduduk Indonesia brjumlah lebi dari 200 juta orang.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
-Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.-Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
-Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.-Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya lamirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan dan tujh puluh lima perseratus rupiah).
Bukan:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 9:08 PM
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai unsur pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
- Dia mengantuk.
- Apa maksudnya?
- Kita harus bekerja keras.
- Pekerjaan itu belum selesai

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
- Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
- Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
- “Kemarin engkau terlambat,” katanya.
- “Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”.

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
- Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen.
- Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya
- Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
- Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertetu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya: 
- Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
- Tahun ini dia pergi naik haji.

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti  nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya: 
- Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak 
diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya: 
- Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
- Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal. 

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman, Halim Perdanakusumah.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
Mesin diesel, 10 volt, 5 ampere

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
Bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
- Mengindonesiakan kata asing
- Keinggris-inggrisan

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipkai 
sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia. 

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi 
Dieng, Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah 
Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung Harapan, 
Teluk Benggala, Terusan Suez.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
berlayar ke teluk, mandi di kali, menyeberabangi selat, pergi ke arah tenggara
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai 
nama jenis.
Misalnya:
garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republik Indonesia; Majelis Permusyawaratan Rakyat; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak; Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
Menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar 
Repulik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
-Dr. doctor
-M.A. master of arts
-S.E. sarjana ekonomi
-S.H. sarjana hukum
-S.S. sarjana sastra
-Prof. professor
-Tn. Tuan
-Ny. Nyonya
-Sdr. saudara

14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
-“Kapan Bapak Berangkat?” tanya Harto.
-Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
-Surat Saudara sudah saya terima.
-“Silakan duduk, Dik!” kata Ucok.
-Besok Paman akan datang.
-Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
-Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Huruf capital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan 
yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
-Kita semua harus menghormati bapak dan ibu kita.
-Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
-Sudahkah Anda tahu?
-Surat Anda telah kami terima.

B. Huruf Miring 
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya: majalah Bahasa dan Sastra, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat kabar Suara Rakyat.
  2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata. Misalnya: Huruf pertama kata abad adalah a. Dia buka menipu, tetapi ditipu. Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital. Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
  3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Misalnya: Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostama. Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini. Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’ Tetapi: Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 8:10 PM