Saturday, February 1, 2014

Kata-kata yang digunakan di depan kata benda untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain disebut kata depan. Umpama kata-kata di, dengan dan oleh pada kalimat berikut:
(1). Kakek tinggal di desa.
(2). Nenek menulis dengan sepidol.
(3). Jembatan ini dibangun oleh pemerintah.
Dilihat dari fungsinya, kata depan menyatakan hal-hal berikut:
  1. Tempat berada, yaitu; di, pada, dalam, atas dan antara.
  2. Arah asal, yaitu; dari.
  3. Arah tujuan, yaitu; ke, kepada, akan, dan terhadap.
  4. Pelaku, yaitu; oleh.
  5. Alat, yaitu; dengan dan berkat.
  6. Perbandingan, yaitu; daripada.
  7. Hal atau masalah, yaitu; tentang dan mengenai.
  8. Akibat, yaitu; hingga dan sampai.
  9. Tujuan, yaitu; untuk, buat, guna, dan bagi. 
A. Kata Depan dalam
Kata depan dalam digunakan dengan aturan sebagai berikut.
  1. Untuk menyatakan tempat berada digunakan di depan kata benda sebagai variasi dari kata depan di dalam. Contoh: 1). Jangan bermain dalam kelas, 2). Buku itu disimpan dalam lemari, 3). Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
  2. Untuk menyatakan "berada dalamsuatu situasi atau peristiwa" digunakan di depan kata benda. Contoh; a). Kita harus hati-hati dalam pergaulan di kota besar. b). Dalam perjalanan ke Eropa, kami singgah di Kairo. c). Dalam bentrokan itu beberapa orang menjadi korban.
  3. Untuk menyatakan "jangka waktu", digunakan di muka kata yang menyatakan lama waktu. Contoh; a). Pekerjaan itu akan selesai dalam beberapa hari. b). Dalam waktu 2 jam perampok itu telah dapat dibekuk. c). Kredit vespa diangsur dalam waktu 2 tahun.
B. Kata Depan atas
Kata depan atas  dapat digunakan dalam aturan seperti berikut:
1. Untuk menyatakan "tempat" digunakan di depan kata benda sebagai varian dari kata di atas.
Contoh; 
a. Kami berdiri atas keadilan dan kebenaran.
b. Beban yang dipikulkan atas pundak rakyat sudah terlalu berat.
c. Berbagai masalah telah menimpa atas diri kami.

2. Untuk menghubungkan predikat intransitif dengan pelengkapnya.
Contoh;
a. Mereka berhak atas barang-barang itu.
b. Kami menyesal atas kejadian itu.
c. Saya ikut berduka cita atas musibah itu.
Catatan: Kata depan atas digunakan juga dalam beberapa ungkapan yang sudah tetap, seperti:
a. atas nama
b. atas kehendak
c. atas anjuran
d. atas permintaan, dan
e. atas desakan.

C. Kata  Depan antara
Kata depan antara digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "jarak", digunakan di depan dua buah kata benda yang menyatakan tempat yang dirangkaikan dengan kata depan dan.
Contoh:
a. Banjir melanda daerah antara Bekasi dan Karawang.
b. Jarak antara Jakarta dan Bogor hanya 60 km.
c. Bedanya antara langit dan bumi.

2. Untuk menyatakan "adanya dua pihak", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan, yang dirangkaikan dengan kata  depan dengan.
Contoh:
a. Perang antara Iran dan Irak semakin hebat.
b. Perundingan antara Indonesia dan Malaysia sedang berlangsung.
c. Perdamaian antara Mesir dan Israel tidak bisa kekal.

3. Untuk menyatakan "suatu tempat, suatu saat, suatu keadaan atau hal", digunakan di muka dua buah kata benda yang menyatakan tempat atau waktu (atau di muka dua buah kata lain yang menyatakan keadaan) yang dirangkaikan dengan kata depan dengan.
Contoh:
a. Tabrakan itu terjadi di jalan raya antara Yogyakarta dan Solo.
b. Pencarian itu terjadi antara pukul tiga dan pukul empat pagi.
c. Antara tidur dan jaga saya mendengar suara ketukan pintu.

D. Kata Depan kepada
Kata depan kepada digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "tempat yang dituju", digunakan di muka objek dalam kalimat yang predikatnya mengandung pengertian "tertuju terhadap sesuatu".
Contoh:
a. Personalia itu telah dilaporkan kepada Gubernur.
b. Harus melapor dulu kepada bagian keamanan.
c. Kami akan minta bantuan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Catatan:
Kalau kata depan ke menyatakan "arah tempat yang sebenarnya" maka kata depan kepada menyatakan "arah tempat yang tidak sebenarnya". Bandingkan contoh berikut;
- Kembali ke desa.
- Kembali kepada UUD 1945.

2. Untuk menyatakan "arah yang dituju", dapat digunakan sebagai varian kata depan akan.
Contoh; 
a. Ia takut sekali kepada hantu.
b. Kami selalu ingat kepada ibunya.
c. Dia sudah lupa kepada kewajibannya.

E. Kata Depan akan
Kata depan akan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menunjuk objek, digunakan di dalam kalimat yang predikatnya menunjukkan sikap batin.
Contoh:
a. Saya masih ingat akan peristiwa bersejarah itu.
b. Dia baru sadar akan keluarganya.
c. Kami sudah bosan akan lagu-lagu itu.

2. Untuk menguatkan kata yang berada di belakangnya, dapat digunakan sebagai tumpuan kalimat. Dalam hal ini dapat diganti dengan kata tentang, mengenai, atau adapun.
Contoh:
a. Akan budi baikmu itu, tentu tak bisa kami lupakan.
b. Akan hutang-hutangmu itu tidak usahlah terlalu kau pikirkan.
c. Akan sawah dan ladang di sana, biarlah diurus oleh paman Hasan.
Catatan:
Sebagai penunjuk "maksud" atau "tujuan", kata depan akan sebaiknya tidak digunakan. Kedudukannya lebih baik diganti dengan kata untuk.
Contoh:
a. Daunnya baik akan obat sakit perut.
(sebaiknya diganti dengan: Daunnya baik untuk obat sakit perut)
b. Latihan diadakan akan mempertinggi kemampuan.
(sebaiknya diganti dengan: Latuhan diadakan untuk mempertinggi kemampuan.
c. Disediakan uang akan biaya rapat itu.
(sebaiknya diganti dengan: Disediakan uang untuk rapat itu.

F. Kata Depan terhadap
Kata depan terhadap digunakan dengan aturan sebagai berikut:
1. Untuk menyatakan "sasaran perbuatan", digunakan di muka kata benda yang menyatakan orang atau yang diorangkan. Kedudukannya dapat diganti dengan kata depan kepada.
Contoh:
a. Saya tidak takut terhadap siapa saja.
b. Terhadap saya dia tidak berani berbuat curang.
c. Terhadap ibunya dia berani berkata begitu, apalagi kepada kita.

2. Untuk menyatak "perihal", digunakan dimuka kata benda. Kedudukannya dapan diganti dengan kata depan kepada.
Contoh:
a. Kami tidak ragu-ragu lagi terhadap kejujuranmu.
b. Kami akan menentukan sikap terhadap perbuatan itu.
c. Peristiwa itu merupakan batu ujian terhadap keteguhan hatinya.

G. Kata Depan oleh
Kata depan oleh digunakan dengan aturan sebagai berikut.
1. Untuk menyatakan "pelaku perbuatan", digunakan di muka objek pelaku dalam kalimat pasif.
Contoh:
a. Pabrik pupuk itu akan diresmikan oleh Presiden SBY.
b. Buku pelajaran matematika itu diterbitkan oleh Balai Pustaka.
c. Jembata ini dibangun  oleh pemerintah pusat.

2. Untuk menyatakan "sebab", digunakan dlam kalimat yang predikatnya berupa kata sifat atau kata yang menyatakan keadaan.
Contoh:
a. Pertahanan mereka hancur oleh serangan Israel.
b. Bajunya basah oleh keringat.
c. Tanaman kami rusak oleh hama wereng.

H. Kata Depan dengan
Berikut ini aturan kata depan dengan.
1. Untuk menyatakan "alat", digunakan di muka kata benda yang menyatakan alat.
Contoh;
a. Adik menulis dengan spidol.
b. Hasil ujian seleksi diperiksa dengan komputer.
c. Penjahat itu menodong saya dengan pistol.

2. Untuk menyatakan "beserta", digunakan di muka kata benda yang menyatakan orang.
Contoh:
a. Dia datang dengan ibunya.
b. Kapal itu tenggelam dengan segala isinya.
c. Adik pergi dengan kawan-kawannya.

3. Untuk menyatakan "cara atau sifat perbuatan", digunakan di muka kata sifat atau kata keterangan.
Contoh:
a. Kami diperiksa dengan teliti.
b. Mereka bermain dengan gembira.
c. Saudara akan kami terima dengan senang hati.

Catatan:
Kata depan dengan digunakan juga dalam beberapa ungkapan tetap yang menyatakan sumpah atau alat, seperti berikut; Dengan nama Alloh, Dengan rahmat Tuhan, Dengan karunia Yang Maha Esa, Dengan titah baginda, Dengan restu presiden
I. Kata Depan berkat
Kata depan berkat digunakan di depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "sebab yang memberi pengaruh untuk terjadinya sesuatu".
Contoh:
a. Kemerdekaan ini dapat kita raih berkat pengorbanan para pejuang.
b. Berkat doa saudara-saudara, kami berhasil membawa kembali gelar juara ini.
c. Berkat bantuan Anda, saya terbebas dari kesulitan ini.

J. Kata Depan tentang
Kata depan tentang digunakan di depan kata benda atau frase benda untuk menyatakan "perihal" atau "masalah".
Contoh:
a. Mereka berdebat tentang peranan pemuda dalam pembangunan.
b. Tentang perundingan itu sendiri tidak banyak dibicarakan lagi.
c. Menlu Mochtar memberi keterangan penjang lebar tentang peristiwa yang dialami Tim Verifikasi RI di Irian Jaya.

K. Kata Depan sampai
Kata depan ini digunakan untuk menyatakan "batas tempat atau batas waktu" digunakan di muka kata benda yang menyatakan tempat atau menyatakan waktu.
Contoh:
a. Kami berjalan kaki sampai desa Jatisari.
b. Bacalah sampai halaman 43!
c. Mereka belajar sampai larut malam.

L. Kata Depan guna
Kata depan guna untuk menyatakan adanya pertalian perihal" sebagai varian kata depan untuk, digunakan di muka kata benda berimbuhan gabung ke-an.
Contoh:
a. Guna kebahagiaan anak-anak itu, biarlah kita mengalah.
b. Guna kesehatan kita bersama, janganlah merokok di ruangan ini.
c. Guna kepentingan umum kami rela berkorban.

Tetapi disini penggunaannya tidak dianjurkan. Lebih baik gunakan kata depan gabung untuk.

M. Kata Depan demi
1. Untuk menyatakan "tekad", digunakan di depan kata benda berimbuhan gabung ke-an.
Contoh: 
a. Kami akan bekerja keras demi  kesejahteraan keluarga.
b. Demi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
c. Saya berjuang demi kebenaran dan keadilan.

2. Untuk menyatakan "berurutannya yang satu dari yang lain" digunakan di antara dua buah kata bilangan yang sama.
Contoh:
a. Diangkatnya batu itu satu demi satu.
b. Seorang demi seorang, secara diam-diam meninggalkan ruang sidang itu.
c. Kertas itu dibakarnya selembar demi selembar.

3. Untuk menyatakan sumpah, digunakan di depan nama Tuhan, Dewa, dan lain-lain yang dianggap berkuasa.
Contoh:
a. Demi Alloh saya tidak pernah mengambil bukumu.
b. Demi Tuhan saya tidak tahu menahu dengan urusan itu.
c. Demi yang menguasai alam dengan segenap isinya saya bersumpah akan tetap tinggal disini.

N. Kata Depan untuk
Kata depan untuk digunakan dengan aturan sebagai berikut:

  1. Untuk menyatakan "tujuan" atau "sasaran perbuatan", digunakan dimuka kata benda orang yang diorangkan. Contoh; Beliau membawa oleh-oleh untuk kami; Pupuk dikirim untuk para petani; Ayah membeli sepatu untuk ibu.
  2. Untuk menyatakan adanya pertalian perihal digunakan di depan kata benda atau frase benda. Biasanya ditempatkan pada awal kalimat. Contoh; Untuk kepentingan umum, kami rela berkorban; Untuk dia, uang saja tidak ada artinya; Hadiah dua juta rupiah disediakan untuk karangan terbaik.
O. Kata Depan bagi
Kata depan ini dapat digunakan untuk menyatakan "adanya pertalian perihal", sebagai varian kata depan untuk. 
Contoh;
a. Bagi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
b. Bagi saya jadi pergi atau tidak, tidak menjadi soal.
c. Bagi karangan terbaik disediakan hadiah menarik.

P. Kata Depan menurut
Kata depan ini dengan fungsi untuk menyatakan "sesuai dengan yang dikatakan", digunakan di depan kata benda atau frase benda yang menyatakan orang.
Contoh:
a. Menurut undang-undang yang berlaku, saudara telah berbuat salah.
b. Menurut  ketua organisasi itu siapa saja boleh mendaftar jadi anggota.
c. Menurut ibu, saya sebaiknya menjadi pelukis saja.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 8:13 PM

Friday, January 31, 2014

Kita tentunya pernah atau bahkan sering mendengarkan cerita. Mendengarkan cerita memang mengasyikkan. Setelah mendengarkan cerita, bisakah kita menentukan temanya? Apakah itu sebenarnya tema? Tema adalah pokok persoalan dalam cerita. Tema dapat ditafsirkan secara sederhana lewat tokoh dan konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh cerita. Pada konflik yang dialami tokoh-tokoh itulah tema lazimnya diungkapkan. Tema dapat diketahui oleh pembaca setelah ia memahami keseluruhan isi cerita. 

Sekarang coba simak dan pahami cerita berikut!



Kesombongan Burung Nuri 


DEO seekor burung nuri. Tinggal di hutan luas bersama binatang lainnya. Merasa paling tampan, Deo menjadi sombong. Tidak mau bergaul dengan teman-temannya dan suka memamerkan diri. ”Di seluruh hutan ini, tidak ada burung lain yang setampan diriku,” kata Deo dengan pongah di hadapan teman-temannya sesama burung.
”Kalian semua pasti juga mengagumi ketampananku ini.” Teman-temannya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka enggan bermain dengan Deo karena sikapnya itu. Pada suatu hari, Deo terbang sendirian mengelilingi hutan. Tanpa sengaja, ia menabrak ranting pohon yang tinggi. Sayapnya patah. Ia terjatuh ke tanah. Deo merasa kesakitan dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
Tiba-tiba, Deo mendengar suara elang di kejauhan. Suara itu semakin dekat. Deo sangat ketakutan. Jantungnya berdegup kencang. Ia begitu lemah dan tidak berdaya. Elang itu kini terbang melayang di atasnya, siap untuk menerkamnya. Ketika Elang itu hendak memangsa Deo, sekawanan burung datang ke tempat itu. Mereka bersuara ribut untuk mengusir Elang. Melihat sekelompok burung yang cukup banyak tersebut, Elang mengurungkan niatnya. Terbang menjauh dan mencari mangsa lainnya. ”Deo, ini kami. Kamu tenang saja karena kami datang untuk menolongmu,” kata burung-burung tersebut. Deo yang masih tergeletak di tanah merasa terharu. Ternyata, kawanan burung itu teman-temannya sendiri yang selama ini tidak dipedulikannya. Mereka lalu terbang menghampiri Deo dan membawanya pulang ke rumahnya. Setelah dirawat beberapa minggu, Deo kembali sembuh seperti sediakala. Ia selalu mengingat kebaikan teman-temannya yang telah menyelamatkannya. Sejak saat itu, Deo tidak sombong lagi. Ia kini senang bermain bersama teman-temannya yang baik hati.


Setelah membaca cerita di atas, bagaiman kita menemukan tema cerita tersebut? Menentukan tema cerita dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut.
  1. Menentukan tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh cerita di atas: Deo (seekor burung nuri) dan teman-teman Deo (sesama burung).
  2. Menentukan konfliknya. Dalam cerita di atas konflik dialami oleh Deo. Deo yang sombong dan tidak peduli terhadap sesamanya suatu saat tidak berdaya ketika hendak dimangsa elang. Dalam ketidakberdayaan itu, Deo diselamatkan oleh teman-temannya yang selama ini tidak dipedulikannya. Hal inilah yang menimbulkan konflik dalam diri Deo.

Dari langkah-langkah di atas, dapat disimpulkan bahwa tema cerita “Kesombongan Burung Nuri” adalah Deo, si burung nuri yang sombong.
Mungkin kesimpulan pembaca berbeda dengan tema yang dirumuskan diatas. Hal ini tidak menjadi masalah, yang penting rumusan itu masih mempunyai hubungan dengan keseluruhan cerita di atas. Bagaimanakan rumusan anda? silahkan tulis pada kolom komentar dibawah.

Tema erat kaitannya dengan amanat. Amanat adalah pesan moral yang terkandung dalam cerita. Dahulu pesan moral disampaikan pengarang secara eksplisit, secara langsung. Sekarang cara seperti itu sudah ditinggalkan. Untuk menghindari kesan menggurui, pesan moral disampaikan secara implisit, tersirat melalui perilaku tokoh. Teknik demikian memberi keleluasaan pembaca untuk mencari dan menemukan sendiri pesan moral dalam cerita. Amanat sebuah cerita dapat dirumuskan setelah pembaca menemukan temannya. Tema dan amanat berbeda dalam cara perumusannya. Tema dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan, sedangkan amanat dirumuskan dalam bentuk kalimat perintah,
saran, atau imbauan. Misalnya, dari cerita di atas diketahui bahwa tema ceritanya “Deo, si burung Nuri yang sombong”. Amanatnya: kita tidak boleh sombong, harus mau bergaul dan peduli dengan sesama karena sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri, selalu memerlukan bantuan orang lain. 

Menyampaikan Pesan/Informasi

Setiap hari kita dapat memperoleh informasi dari berbagai media, seperti radio, televisi, dan koran. Sudah biasakah kamu menyampaikan informasi yang kamu ketahui kepada orang lain? Jika belum, biasakanlah! Hal ini akan dapat melatih keterampilanmu dalam berbicara. Adapun cara menyampaikan pesan/informasi sebagai berikut.
  1. Ingat-ingatlah pokok-pokok informasi yang hendak kamu sampaikan.
  2. Sampaikan informasi itu kepada orang lain dengan runtut, baik, dan benar. Runtut, artinya informasi yang disampaikan urut dari awal sampai akhir dan antarinformasi saling berhubungan.
  3. Informasi diucapkan dengan jelas dan dengan nada yang meyakinkan.

Contoh penyampaian informasi/pesan dari berita yang disimak:

Berita:

Punya Hobi Itu Mengasyikkan
Kawan-kawan pasti punya hobi dong. Ada yang bilang hobinya tidur, main PS (Play Station), main sepeda, atau sepak bola. Tetapi hobi itu apa sih dan mengapa hobi tiap orang berbeda? Hobi berasal dari bahasa Inggris, hobby artinya kegemaran atau kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang. Hobi seseorang tidak harus sama dengan hobi anggota keluarga seperti ayah, ibu, kakak, atau adik. Hobi seseorang biasanya tidak beda jauh dengan hobi orang-orang terdekat. Hobi biasanya terbentuk oleh lingkungan. Misalnya bapak atau ibunya seorang penulis, biasanya anaknya mempunyai hobi membaca, menulis, atau menggambar. Hobi ada yang dilakukan sendiri, seperti membaca, menulis, menggambar, menyanyi, dan main piano. Sedangkan hobi yang harus dilakukan dalam sebuah tim atau berkelompok adalah jenis permainan atau olahraga seperti voli dan sepak bola.

Pesan yang disampaikan dari berita di atas sebagai berikut.
  • Hobi artinya kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang.
  • Hobi ada yang dilakukan sendiri, ada pula yang harus dilakukan dalam kelompok.
  • Hobi yang dilakukan sendiri, misalnya membaca, menulis, menggambar, menyanyi, dan main piano.
  • Hobi yang dilakukan dalam kelompok, misalnya sepak bola, dan voli.
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 11:33 AM

Tuesday, January 28, 2014

Kali ini saya akan mengulas tentang simantik dan etimologi. Apa itu simantik? simantik adalah bagian dari tata bahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata.
Sedangkan etimologi adalah ilmu yang mempelajari perubahan dan perkembangan bentuk kata. Dalam etimologi tekanan diletakan atas sejarah bentuk kata. Adapun dalam simantik, tekanan terdapat pada makna dan sejarah makna kata. 

A. Macam-Macam Arti
  1. Batasan arti adalah hubungan antara benda berupa lambang bunyi udara dengan hal atau barang yang dimaksudkan.
  2. Arti leksial adalah arti dari kata sesuai dengan hal yang terdapat dalam kamus atau leksikon.
  3. Arti struktural adalah arti yang diperoleh dari meneliti hubungannya dalam kalimat.
  4. Homonim adalah kata-kata yang mempunyai bentuk yang sama tetapi artinya berbeda. Contoh: Dia bisa mengerjakan pekerjaan itu. (Bisa = sanggup). Bisa ular itu sangat berbahaya. (Bisa = racun).
  5. Homograf adalah kata-kata yang ejaannya sama tetapi mempunyai bunyi dan arti yang berbeda. Contoh: Ayahnya seorang pejabat teras di Departemen Keuangan. (teras = tingkat atas). Bandingkan dengan "Mereka sekeluarga sedang duduk-duduk di teras rumah." (teras = beranda).
  6. Homofon adalah kata-kata yang bunyinya sama tetapi ejaan dan artinya berbeda. Contoh: Ayah bercerita tentang pengalamannya pada masa lampau. (masa = waktu). Bandingkan dengan, Tak ada seorangpun yang berani melawan bila massa telah menyerang. (Massa = masyarakat)
  7. Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Contoh: "Rumah tempat tinggalnya selalu tampak bersih". "Dalam perkara kejahatan itu rupanya ia bersih".
  8. Hiponim adalah kata atau frase yang maknanya dalam makna kata atau frase lain. Contoh: Merah, hijau, coklat, kuning - hiponimnya warna.
  9. Antonim adalah dua buah kata yang maknanya dianggap berlawanan. Contoh: Tembok penjara setinggi itu masih terlalu rendah untuk penjahat itu.
B. Perubahan Makna
Berikut ini beberapa peristiwa perubahan makna yang penting;
  1. Meluas, adalah cakupan makna sekarang lebih luas dari pada makna yang lama. Contoh: Bapak, dulu dipakai dalam hubungan persaudaraan, tetapi sekarang dipakai untuk panggilan laki-laki yang lebih tua/tinggi kedudukannya.
  2. Menyempit, adalah cakupan arti dulu lebih luas daripada makna sekarang. Contohnya: Sarjana. Dulu kata ini untuk menyebut semua orang cendikiawan, tetapi sekarang dipakai untuk gelar universitas.
  3. Amelioratif adalah suatu proses perubahan arti, yang menempatkan arti baru lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari dulu. Contohnya: Istri/Nyonya lebih baik dari bini, atau wanita lebih baik dari perempuan.
  4. Peyoratif adalah suatu proses perubahan makna, yang menjadikan arti baru lebih rendah nilainya dari dulu. Contohnya: Kaki tangan dulu berarti pembantu, sekarang dipakai dalam arti kurang baik. (orang jahat)
  5. Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berlainan. Contohnya: Kata-katanya pedas (pedas tanggapan indera perasa), atau seperti pada kalimat suaranya sedap didengar. (sedap tanggapan indera perasa).
  6. Asosiasi adalah perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh: Catut (alat untuk menarik/mencabut paku). Catut juga dipakai untuk persamaan sifat orang yang menjual barang-barang dengan harga tinggi
C. Perubahan Bentuk Kata
Perubahan bentuk kata dibedakan atas beberapa hal berikut:
  1. Perubahan bentuk kata-kata dari perbendaharaan kata-kata asli suatu bahasa karena pertumbuhan dalam bahasa itu sendiri.
  2. Perubahan bentuk dari kata-kata pinjaman.
a. Adaptasi
Semua bentuk asing yang tidak diterima begitu saja tetapi selalu mengalami proses penyesuaian sesuai dengan struktur bahasa Indonesia disebut adaptasi. 
Adaptasi atau penyesuaian bentuk dibedakan atas dua hal yaitu;
  1. Adaptasi berdasarkan sistem fonologi bahasa Indonesia. Contoh: voorschot (Bld) > persekot, voorloper (Bld) > pelopor.
  2. Adaptasi berdasarkan bentuk kata atau morfologi dalam bahasa Indonesia. Contoh: prameswari (Skt) > permaisuri. prakara (Skt) > perkara. 
b. Analogi
Analogi adalah pembentukan suatu kata baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada.
Contoh: 
ekspor (Bahasa Inggris) - to export, exporting, exported.
(Bahasa Indonesia) - ekspor, pengeksporan, pengekspor, mengekspor, diekspor.

c. Kontaminasi atau Keracunan
Kontaminasi atau keracunan yaitu dua ungkapan yang berlainan diturunkan suatu ungkapan baru.
Contoh: 
Membungkukkan badan dan menundukkan kepala dibuat kontaminasi menundukkan badan

d. Macam-Macam Gejala Perubahan Bentuk Kata.
Berikut ini beberapa gejala perubahan bentuk kata

1. Asimilasi, adalah gejala dua buah fonem yang tidak sama dijadikan sama.
Contoh;
alsalam > asalam
in moral >imoral

2. Desimilasi adalah proses berubahnya suatu monoftong menjadi diftong.
Contoh:
sajjana > sarjana
citta > cipta

3. Diftongisasi adalah proses berubahnya suatu monoftong menjadi diftong.
Contoh:
anggota > anggauta
teladan > tauladan

4. Monoftongisasi adalah proses berubahnya suatu diftong menjadi monoftong. 
Contoh:
pulau > pulo
danau > dano

5. Haplologi adalah proses hilangnya suatu suku kata di tengah-tengah sebuah kata.
Contoh:
budhidaya > budidaya
mahardhika > merdeka

6. Anaptiksis adalah proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata untuk melancarkan ucapannya. 
Contoh:
sloka > seloka
srigala > serigala

7. Metatesis adalah proses perubahan bentuk kata dengan bertukarnya tempat dua fonem dalam sebuah kata.
Contoh:
drohaka > durhaka
pratyaya > percaya

8. Aferesis adalah proses hilangnya satu fonem lebih pada awal suatu kata.
Contoh:
pepermint > permen
upawasa > puasa

9. Sinko adalah proses hilangnya satu fonem atau lebih di tengah-tengah suatu kata.
Contoh: 
niyata > nyata
utpatti > upeti

10. Apokop adalah proses hilangnya suatu fonem pada akhir suatu kata
Contoh:
pelangit > pelangi
mpulaut > pulau

11. Protesis adalah proses bertambahnya suatu fonem pada awal suatu kata.
Contoh: 
mas > emas
stri > istri

12 Epentesis (=mesogoge) adalah proses bertambahnya suatu fonem atau lebih ditengah-tengah suatu kata. 
Contoh:
akasa > angkasa
racana > rencana

13. Paragog adalah proses penambahan suatu fonem pada akhir suatu kata.
Contoh:
adi > adik
kak > kakak

D. Denotasi dan Konotasi

Denotasi adalah arti sebenarnya, arti yang dekat dengan bendanya atau acuannya, kata yang mengandung arti sebenarnya yang biasa terdapat dalam kamus.
Contoh:
Anak-anak yang di aula itu sedang berebut kursi karena pertunjukkan segera dimulai. (berebut kursi = benar-benar memperebutkan kursi sebagai tempat duduk)

Konotasi adalah arti yang timbul di samping arti sebenarnya, kata yang mengandung arti lain selain arti sebenarnya.
Contoh:
Siapapun yang bermaksud berebut kursi pimpinan perusahaan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan formatur. (berebut kursi =berebut jabatan).
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 7:31 PM

Monday, January 27, 2014

Kata ulang adalah kata yang diulang-ulang. Benarkah begitu? hehehe... Kata ulang disebut juga dengan reduplikasi, yang bermakna pengulangan. Kata ulang dapat ditinjau dari dua segi yaitu tinjauan dari segi bentuk dan tinjauan dari segi arti atau fungsi kata ulang.


A. Macam-macam Kata Ulang.



Ditinjau dari bentuknya, kata ulang dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:


1. Kata ulang utuh atau dwilingga.
Yaitu semua bentuk kata ulang hasil perulangan kata secara utuh, sepenuhnya.
Contoh:
# Taman-taman
# duduk-duduk

2. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan.
Yaitu semua jenis perulangan kata yang salah satu atau kedua unsurnya mendapat imbuhan (dapat berupa awalan, akhiran, sisipan, atau konfiks)
Contoh;
# Memukul-mukul
# mobil-mobilan

3. Kata ulang berubah bunyi atau dwilingga salin suara.
Adalah semua bentuk perulangan kata yang salah satu unsurnya berubah bunyinya.
Contoh:
# bolak-balik
# mondar-mandir
# sayur-mayur

4. Dwipurwa
Yaitu jenis kata ulang yang mengalami perulangan hanya pada suku pertama kata asalnya.
Contoh:
# tetamu
# dedaunan

B. Fungsi Kata Ulang.

Menentukan fungsi kata ulang sebenarnya agak sedikit sulit, sebab fungsi dan artinya terjalin erat. Tetapi bila melihat fungsinya sebagai alat untuk membentuk jenis kata, maka perulangan  sebuah kata akan menurunkan jenis kata yang sama.
Contoh:
# Mainan sama dengan main-mainan
# Tali sama dengan tali temali

C. Arti Kata Ulang

Berikut ini saya sajikan mengenai beberapa arti kata ulang
1. Banyak yang tidak tentu.
Contoh:
# Buku-buku itu telah kusimpan dalam lemari

2. Bermacam-macam
Contoh:
# pohon-pohonan
# tanam-tanaman

3. Menyerupai atau tiruan dari sesuatu
Contoh:
# kuda-kudaan
# anak-anakan

4. Melemahkan arti, dalam hal ini dapat diartikan dengan agak.
Contoh:
# Sifatnya kekanak-kanakan

5. Menyatakan intensitas baik mengenai kualitas, kuantitas, maupun frekuensi.
Contoh:
# Belajarlah segiat-giatnya.

6. Menurunkan arti saling atau pekerjaan yang berbalasan.
Contoh:
# Hidup bersaudara harus tolong-menolong

7. Mengandung arti kolektif
Contoh:
# tiga-tiga
# lima-lima

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah ada beberapa kata yang seolah-oleah tampak seperti kata ulang, antara lain; biri-biri, kupu-kupu, ali-ali, dan lain-lain. Atau kata tersebut keseluruhannya merupakan kata dasar. Fakta ini memberikan pengertian bahwa bentuk itu bukan merupakan kata ulang.
Setiap penutur bahasa Indonesia akan menolak kalimat-kalimat seperti berikut:
1. Saya membeli tiga biri.
2. Saya menangkap kupu.
3. Kakak melontar harimau itu dengan ali.

Penolakan terhadap kalimat tersebut terjadi karena bentuk biri, kupu, dan ali tidak ada dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.
Demikian yang dapat saya sajikan, mudah-mudahan bisa menambah khasanah dan pengetahuan kita tentang bahasa Indonesia....
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 9:33 PM

Wednesday, January 22, 2014

1. Mengenal Sintaksis

Bahasa terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan bentuk, dan lapisan arti yang dinyatakan bentuk tersebut. Satuan bentuk dapat dibagi menjadi satuan fonologik dan gramatik. Satuan fonologik meliputi fonem dan suku kata. Satuan gramatik meliputi wacana, kalimat, klausa, frasa, kata, dan morfem. Satuan fonologik dipelajari oleh fonologi. Satuan gramatik yang berupa kata dan morfem dipelajari oleh morfologi. Satuan gramatik yang berupa kalimat, klausa, dan frasa dipelajari oleh sintaksis. Sebaliknya, satuan arti dipelajari oleh semantik. Dalam pembahasan kali ini saya hanya akan membicarakan mengenai sintaksis. Apa itu sintaksis? Pembaca dapat menemukan penjelasannya berikut.

A. Beberapa Pengertian tentang Sintaksis
Istilah sintaksis berasal dari bahasa Belanda yaitu syntaxis. Dalam bahasa Inggris terdapat istilah Syntax. Ada banyak pendapat para ahli tentang sintaksis.
  1. Sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat.
  2. Sintaksis merupakan analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas.
  3. Sintaksis merupakan bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat.
Bidang Kajian Sintaksis
Berdasarkan pengertian sintaksis dapat disimpulkan bahwa bidang kajian sintaksis adalah kalimat, klausa, dan frasa. Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik. Klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas subjek dan predikat baik disertai objek, pelengkap, keterangan, ataupun tidak. Frasa adalah unsur klausa dan kalimat yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi.

2. Kalimat

Kalimat merupakan salah satu objek kajian sintaksis. Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun dan naik. Dalam wujud tulisan kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanya (?), atau seru (!). Dalam kalimat yang berwujud tulisan juga dapat disertakan tanda koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), atau spasi (_)
Kalimat merupakan dasar dari wacana. Ini berarti wacana hanya dapat terbentuk jika terdapat dua kalimat atau lebih yang membentuk suatu kesatuan.
Kalimat sebagai sebuah kesatuan tidak terbentuk dengan sendirinya. Kalimat disusun oleh beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut menduduki fungsi yang berbeda-beda. Fungsi unsur-unsur kalimat disebut fungsi sintaksis. Fungsi sintaksis kalimat ada bermacam-macam.

A. Beberapa Fungsi Sintaksis Unsur Kalimat
Dalam kalimat terdapat beberapa fungsi sintaksis. Fungsi sintaksis tersebut dimiliki oleh setiap unsur kalimat. Unsur kalimat merupakan satuan gramatik dapat berupa kata, frasa, atau klausa yang membentuk kalimat. Fungsi sintaksis kalimat ada bermacam-macam.

1. Subjek (selanjutnya disebut S)
Subjek dapat dicari dengan menggunakan kata tanya apa atau siapa. Subjek umumnya terletak di sebelah kiri predikat. Subjek pada kalimat aktif dapat menjadi objek jika kalimat tersebut dipasifkan. Subjek memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Berupa kata benda, frasa benda, atau klausa.
Contoh:
1). Ayah  Membaca  koran  di teras
        S             P             O      Ket. Tempat

2). Ayah Tuti           bekerja   di rumah sakit daerah.
     S (frasa benda)       P               Ket. tempat

3). Orang yang tidak ikut upacara  akan dikenai  sanksi
                          S (kalusa                             P              O

b. Dapat diikuti partikel pun
Contoh:
1) Ayah pun   membaca koran  di teras
      S (kata)            P           O       Ket. Tempat

2). Ayah Tuti pun   bekerja   di rumah sakit daerah
     S (frasa benda)         P               Ket. tempat

3). Orang yang tidak ikut upacara pun  akan dikenai  sanksi
                            S (kalusa)                          P                       O

Subjek dibedakan menjadi dua, yaitu subjek pelaku dan subjek penderita. Subjek pelaku adalah subjek yang melakukan perbuatan. Subjek pelaku terdapat dalam kalimat aktif.
Contoh:
Penduduk desa   membangun   jembatan
              S                       P                   O
(S sebagai pelaku yang membangun jembatan)

Anak-anak   berbondong-bondong   ke depan sekolah
          S                            P                        Ket. Tempat
(S sebagai pelaku yang berbondong-bondong)

Subjek penderita adalah subjek yang dikenai pekerjaan. Subjek penderita terdapat dalam kalimat pasif.
Contoh:
Padi sedang dijemur petani
   S               P                  O
(S dikenai pekerjaan jemur oleh petani)

Buku dipinjam Deni  tadi pagi
    S          P          O     Ket. waktu
(S dikenai pekerjaan pinjam oleh Deni)

2. Predikat (selanjutnya disebut P)
Predikat merupakan unsur yang harus ada dalam kalimat. Predikat disebut unsur inti kalimat. Unsur predikat dapat diisi oleh kata kerja, kata benda, kata sifat, kata bilangan, frasa kerja, frasa benda, frasa sifat, atau frasa bilangan.
Contoh:
Aditya sedang membaca buku
      S          P              O
(P merupakan frasa kata kerja)

Ayahnya seorang dokter
        S                 P
(P merupakan frasa benda)

Fitria pintar sekali
    S             P
(P merupakan frasa sifat)

Adiknya  dua
     S           P
(P merupakan kata bilangan)

3. Objek (selanjutnya disebut O)
Objek terletak setelah predikat. Objek merupakan unsur yang dapat hadir atau tidak. Objek wajib hadir dalam kalimat transitif. Dalam kalimat intransitif objek tidak diperlukan. Objek dalam kalimat aktif akan menjadi subjek dalam kalimat pasif. Objek dapat berupa kata benda atau frasa benda.
Contoh:
Andi mengunjungi Pak Rustam
    S               P                   O
(Pak Rustam sebagai objek dalam kalimat aktif)

Pak Rustam dikunjungi Andi
          S                  P            O
(Pak Rustam sebagai subjek dalam kalimat pasif)

Objek dibedakan menjadi objek penderita dan objek pelaku. Objek penderita adalah objek yang dikenai pekerjaan. Objek ini selalu ada dalam kalimat aktif. Dalam kalimat pasif objek ini dapat berubah menjadi subjek. 
Contoh:
Amin meletakan buku di meja tulis
    S           P             O     Ket. tempat
(O sebagai penderita yang diletakan)

Ibu menasihati Hasan agar rajin belajar
   S         P               O              Pel
(O sebagai penderita yang dinasihati)

Objek pelaku merupakan objek yang melakukan perbuatan. Objek pelaku terdapat dalam kalimat pasif.
Contoh:
Buku diletakan Amin di meja tulis
   S            P          O      Ket. tempat
(O sebagai pelaku yang meletakan)

Hasan dinasihati Ibu agar rajin belajar
     S            P          O            Pel.
(O sebagai pelaku yang menasihati)

4. Pelengkap (selanjutnya disebut Pel.)
Pelengkap disebut juga komplemen. Pelengkap pada dasarnya mirip dengan objek sehingga orang sering mencampur adukan pengertian objek dan pelengkap. Objek dan pelengkap sama-sama terletak di belakang predikat. Objek dapat berupa kata benda atau frasa benda. Namun, objek dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif, sedangkan pelengkap tidak
Contoh:
Fikri berdagang barang elektronik (berterima)
    S           P                     O
Barang elektronik didagang Fikri (tidak berterima)
             S                         P          O
Berikut ini disajikan persamaan objek dan pelengkap.
Objek
Pelengkap
Berwujud kata benda, frasa benda, atau klausa
Berwujud frasa benda, frasa kerja, frasa sifat, frasa depan, atau klausa.
Berada langsung di belakang predikat
Berada langsung dibelakang predikat jika tidak ada objek dan dibelakang objek jika objek hadir dalam kalimat
Dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.

Tidak dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif
Dapat diganti dengan pronominal –nya
Tidak dapat diganti dengan –nya kecuali bergabung dengan preposisi selain di, ke, dari, dan akan

5. Keterangan
Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling mudah berpindah tempat.Keterangan dapat berada di akhir, di awal, atau ditengah kalimat. Kehadiran keterangan dapat bersifat manasuka atau dapat ada atau tidak dalam kalimat. Keterangan dapat berupa frasa benda, frasa kerja, frasa sifat, atau frasa depan.
Contoh:
a. Fahri memotong rambutnya dengan gunting
        S           P                   O              Ket. Cara
b. Dengan gunting Fahri memotong rambutnya
           Ket. Cara          S             P                O
c. Fahri dengan gunting memotong rambutnya
   S               Ket. Cara             P                    O

Keterangan dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Keterangan tempat
2. Keterangan waktu
3. Keterangan alat
4. Keterangan tujuan
5. Keterangan cara
6. Keterangan penyerta
7. Keterangan perbandingan/kemiripan
8. Keterangan sebab, dan
9. Keterangan kesalingan
Selengkapnya >>
Posted by: Yuliyati
Blog. Seri Bahasa Indonesia Updated at: 2:09 PM